Anak Perempuan Tomboi, Ini Penyebabnya

Home / Gaya Hidup / Anak Perempuan Tomboi, Ini Penyebabnya
Anak Perempuan Tomboi, Ini Penyebabnya ILUSTRASI: Tomboy (FOTO: Wildfang)

TIMESSURABAYA, JAKARTA – Anak Anda perempuan tapi berperilaku layaknya anak laki-laki? Anak seperti ini biasanya disebut anak tomboi. Sebenarnya apa yang membuat anak perempuan menjadi tomboi?

Menurut sebuah studi dari Child Development, yang dilansir dari Klik Dokter, hal ini disebabkan karena meningkatnya kadar testosteron selama masa kehamilan dan pengaruh lingkungan sebelum anak perempuan memasuki masa sekolah. Salah satu temuan studi ini adalah, semakin banyak paparan testosteron yang dialami anak perempuan ketika di dalam di rahim, semakin besar pula kemungkinkan ia akan menjadi tomboi. Kelak ketika ia tumbuh dewasa, ia akan lebih menyukai permainan yang umumnya dimainkan oleh anak laki-laki.

Menggunakan data dari Avon Longitudinal Study of Parents and Children yang merupakan studi jangka panjang tentang masa kehamilan dan kesehatan anak, para peneliti mengamati 679 anak berusia 18 bulan yang lahir di awal tahun 1990-an. Penelitian ini mengambil sampel darah ibu selama masa kehamilan untuk dianalisis kadar testosteronnya.

Tidak hanya itu, begitu anak mencapai usia 3,5 tahun, seorang pengasuh melengkapi kuesioner dengan menilai keterlibatan anak dalam berbagai perilaku gender, seperti pemilihan permainan anak berdasarkan gender dan berbagai aktivitas lain. Hasilnya, tingkat testosteron yang tinggi selama masa kehamilan ternyata berpengaruh terhadap tingkat “maskulinitas” anak perempuan.

Seperti dikutip di laman WebMD, Melissa Hines, PhD, peneliti dari City University di London dan rekannya mengatakan, faktor lain seperti pendidikan ibu, saudara laki-laki dan perempuan yang lebih tua atau orang dewasa laki-laki di rumah, serta pandangan orang tua terhadap peran gender tertentu, juga dapat memengaruhi munculnya perilaku tomboi. Namun, para peneliti mengatakan bahwa beberapa faktor tersebut belum diperhitungkan dalam hubungan antara testosteron dan perilaku yang ditemukan dalam penelitian ini.

Meski begitu, para periset mengatakan bahwa hubungan antara testosteron dan perilaku anak perempuan dalam penelitian ini hanya menyumbang 2 persen dari varian dalam perilaku gender saat masa prasekolah. Periset juga mengatakan bahwa anak perempuan mungkin sangat rentan terhadap efek testosteron, namun faktor sosial juga dapat berdampak pada perilakunya di kemudian hari.

Jika hal ini membuat Anda sebagai orang tua khawatir, ingatlah bahwa saat anak berkembang, baik anak laki-laki maupun anak perempuan, ia harus melewati tahapan-tahapan baik secara fisik, kognitif, maupun psikososial. Sebagai orang tua, persiapkan si anak tumbuh dan berkembang secara optimal. (*)

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com