Pengasuh Pesantren Al-Amien Prenduan: Penerapan New Normal Tidaklah Mudah

Home / Pendidikan / Pengasuh Pesantren Al-Amien Prenduan: Penerapan New Normal Tidaklah Mudah
Pengasuh Pesantren Al-Amien Prenduan: Penerapan New Normal Tidaklah Mudah Pimpinan dan Pengasuh Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep, Madura, Kiai Ahmad Fauzi Tidjani. (FOTO: MTA Al Amien)
Fokus Berita

TIMESSURABAYA, SUMENEP – Pimpinan dan Pengasuh Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep, Madura, Kiai Ahmad Fauzi Tidjani berpendapat kebijakan New Normal di pesantren tidaklah mudah.

Hal itu melihat pesantren yang berbasis komunitas dan cenderung komunal justru dapat berpotensi menjadi klaster baru dalam angka Covid-19.

"Pemerintah mendorong terlaksana New Normal dalam kehidupan pesantren. Hal demikian tentu saja mengkhawatirkan. Alih-alih untuk menyelematkan pesantren dari Covid-19," katanya kepada TIMES Indonesia, Minggu (31/6/2020).

Untuk itu, lanjut Kiai Fauzi, pelaksanaan New Normal di pesantren tidak dapat dilakukan jika tidak ada dukungan pemerintah secara konsisten. Menurutnya, setidaknya ada tiga syarat New Normal bisa diterapkan di pesantren. Pertama, kebijakan pemerintah yang konkret dan berpihak sebagai wujud keseriusan pemerintah dalam menjaga pesantren dari risiko penyebaran virus Covid-19 dari semua Kementerian.

Kedua, dukungan fasilitas kesehatan dari pemerintah untuk pemenuhan pelaksanaan protokol kesehatan, seperti rapid test, hand sanitizer, akses pengobatan dan tenaga ahli kesehatan. Dan ketiga, yakni dukungan sarana dan fasilitas pendidikan meliputi fasilitas pembelajaran online bagi santri yang belum bisa kembali ke pesantren dan biaya pendidikan bagi santri yang terdampak secara ekonomi.

Oleh karenanya, kata Kiai Fauzi, apabila tidak ada kebijakan nyata untuk tiga hal di atas, maka sebaiknya pesantren memperpanjang masa libur. Atau setiap keputusan yang diambil terkait dengan nasib pesantren, harus melibatkan kalangan pesantren untuk kebijakan terbaik.

"New Normal di pesantren membutuhkan banyak persiapan," tambahnya.

Nantinya, terdapat ribuan pesantren dan jutaan santri yang akan kembali melakukan kegiatan belajar-mengajar, membutuhkan perlidungan kesehatan dari pandemi Covid-19. Kebutuhan sarana dan prasarana tentu membutuhkan dana yang tidak bisa di-cover oleh pesantren itu sendiri.

Dengan kondisi sarana dan prasarana pesantren di Indonesia yang belum memenuhi standar kesehatan untuk menjalankan konsep New Normal, maka membutuhkan fasilitas yang memadai.

"Kebutuhan fasilitas ini membutuhkan dana yang tidak sedikit sehingga diperlukan alokasi dana APBN hingga APBD untuk pesantren-pesantren di seluruh Indonesia. Alokasi dana tersebut diperuntukkan bagi kebutuhan mempersiapkan sarana dan prasarana sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19," jelasnya.

Di Pesantren Al-Amien sendiri, saat ini sudah mengeluarkan beberapa maklumat mengenai dari perpulangan hingga kembalinya santri ke pondok pesantren. Hal itu tentu sesuai prosedur kesehatan. Semua diputuskan melalui pertimbangan matang. 

Kiai Fauzi berharap, pemerintah pusat hingga wilayah agar senergi, mengawal proses kembalinya santri. Sehingga tercapai semua harapan agar tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk terjadi saat new normal diberlakukan. "(Untuk jadwal kembalinya santri Al-Amien) tanggal 22 dan 23 Juni untuk santri lama. Dan dan untuk santri baru, dari tanggal 22 juni sampai tanggal 1 Juli," Pimpinan dan Pengasuh Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep, Madura, Kiai Ahmad Fauzi Tidjani. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com