Tita Karlita, Doktor ITS yang Kembangkan Sistem Pencitraan Ultrasound Tulang Secara 3D

Home / Pendidikan / Tita Karlita, Doktor ITS yang Kembangkan Sistem Pencitraan Ultrasound Tulang Secara 3D
Tita Karlita, Doktor ITS  yang Kembangkan Sistem Pencitraan Ultrasound Tulang Secara 3D Tita Karlita saat sidang terbuka program doktor di Institut Teknologi Sepulih Nopember (ITS). (Foto: Humas ITS)

TIMESSURABAYA, SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menyelenggarakan Sidang Terbuka Promosi Doktor, Selasa (25/2/2020) lalu. Tita Karlita, mahasiswa program Doktor, Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik Elektro dan Informatika Cerdas, merancang sistem pencitraan ultrasound untuk merekontruksi kontur luar tulang (bone outer counter) secara 3D.

Disertasi yang berjudul Reconstruction of Long Bones Using 3D Ultrasound Imaging System tersebut, menggunakan RPN yang merupakan salah satu metode deep learning, metode ini berfungsi untuk memperkecil area deteksi tulang.

"Selama ini Computerized Tomography (CT) diakui sebagai standar terbaik dalam pencitraan tulang. Namun, metode yang menggunakan X-ray ino memiliki radiasi yang tinggi, sehingga frekuensi penggunaannya untuk manusia dibatasi," jelas Tita, Jumat (28/2/2020).

its-b.jpg

Berdasarkan pemaparan Tita, saat ini ultrasound memang belum disarankan untuk pencitraan tulang. Namun, ultrasound ini memiliki kelebihan yaitu tidak memancarkan radiasi, banyak terdapat di medical center, dan harganya lebih murah. NEURO merupakan penggabungan dua metode yaitu Regent Proposal Network (RPN) dan Curve Approximation.

Kendati demikian, dalam penelitian ini, Tita menggunakan RPN yang merupakan satu metode deep learning yang berfungsi untuk memperkecil area deteksi tulang.

"Hasil tersebut diekstraksi menggunakan metode Curve Approximation, yang kemudian hasil penggabungan keduanya didapatkan pencitraan 3D kontur luar tulang," ungkapnya.

its-c.jpg

Secara kerja, perbedaan 3D Ultrasound hanya melakukan pemindaian dan rekonstruksi tanpa segmentasi, sementara NEURON berusaha menghilangkan gangguan-gangguan seperti otot atau tendon sehingga tujuan rekonstruksi kontur tulang dapat terlaksana.

Salah satu aplikasi dari pencitraan 3D kontur tulang ini adalah pada bidang atropologi forensik, dengan menggunakan tulang sebagai salah satu objek untuk mengidentifikasi individu sehingga bidang tersebut membutuhkan dara yang banyak.

"CT memiliki keterbatasan dalam mengambil sample yang banyak, sehingga ultrasound dapat menjadi alternative," terang Tita Karlita, mahasiswa program Doktor, Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik Elektro dan Informatika Cerdas.(*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com