Realisme Imajinatif Kitab Pararaton

Home / Kopi TIMES / Realisme Imajinatif Kitab Pararaton
Realisme Imajinatif Kitab Pararaton Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unisma. (Grafis: Dena/TIMES Indonesia)

TIMESSURABAYA, MALANGSETIAP manusia memiliki keingintahuan yang kuat terhadap peristiwa luar biasa yang terjadi pada dirinya, orang lain, bahkan rahasia terbesar di balik penciptaan jaga raya. Rasa keingintahuan ini dapat berangkat dari asumsi menuju pembuktian realitas yang dilihatnya atau justru sebaliknya dari realitas kemudian diasumsi dan dikajinya untuk mendapatkan pengetahuan dan kebenaran di dalamnya.

Demikianlah jika kita mengkaji sejarah terutama sastra lama yang pernah ada di Nusantara. Kita akan menemukan sastra lama pada dari kisah Kerajaan Singasari bernama Kitab Pararaton dan Kitab Negara Kretagama yang ditulis pada era keemasan Kerajaan Majapahit. Dalam Kitab pertama mengisahkan tentang sosok paripurna wanita jawa dengan segala kelebihannya dan nyaris ditambatkan sebagai keturunan dewa, dialah Ken Dedes, leluhur dari seluruh raja-raja Tanah Jawa.

Apakah Ken Dedes putri dari Empu Parwa ini memang benar-benar ada ataukah sekedar imajinatif, Penemuan Patung Prajnaparamita bersamaan dengan tumpukan batu candi pada tahun 1918 sebenarnya belum sempurna tanpa adanya narasi epugrafis yang dibuat pada zaman kerajaan tersebut. Hal ini menjadi keraguan sejarah bahwa sosok Ken Dedes pernah ada dan hidup di bumi Jawa.

Selama ini kisah Ken Dedes lebih banyak dalam wacana narasi sejarah baik secara lisan ataupun tulisan. Narasi-narasi tersebut semakin banyak tak kala sejumlah novelis Indonesia menceritakan tentang keberadaannya sebagai wanita luhur yang pernah ada. Ken Dedes apakah nyata, simbolis, ataukah hanyalah fiksi belaka.

Upaya penulisan kisah Ken Dedes mulai Kitab Pararaton seakan-akan untuk meligitimasi raja-raja Tanah Jawa yang masih memiliki pertalian darah. Ligitimasi ini berdasarkan perspektif sejarawan bahwa Kitab Pararaton dibuat dua abad setelah keemasan Kerajaan Singasari. Dengan demikian terdapat jedah dua ratus tahun lebih antara peristiwa sejarah Singosari dengan ditulisnya Kitab Pararaton.

Dalam Kitab Pararaton, Ken Dedes dideskripkan sebagai wanita dengan kecantikan yang sempurna. Kisah ini hampir bersinonim dengan Kisah Dewi Amba dalam Mahabarata dan Sinta dalan Ramayana. Tokoh di dalamnya sama-sama memiliki kecantikan yang ideal yang mengundang perhatian dan rebutan para pangeran. Demikian juga dengan Ken Dedes, yang menjadi rebutan banyak orang termasuk Joko Lolo yang berasal dari Dinoyo.

Kisah Ken Dedes dengan Joko Lolo terkesan fiktif dan simbolis. Ketika Joko Lolo (yang tidak menarik secara fisik) melamar Ken Dedes, dia diberi persyaratan untuk membangun waduk dalam kurun waktu semalam. Alur ini hampir mirip dengan cerita lisan Bandung Bondowoso dan Legenda Gunung Tangkuban Perahu. Pada akhirnya sama-sama gagal karena hubungan yang tidak diinginkan.

Peristiwa penculikan Ken Dedes di Desa Pulowijen semakin menambah fiksi kisah ini. Sosok Mpu Parwa yang paripurna dari sisi keilmuan harus tunduk pasif pada seorang Akuwu. Dalam Kitab ini Sang Mpu yang sedang bepergian dimanfaatkan oleh Sang Akuwu untuk menculik Dedes dari Pulowijen. Peristiwa dalam alur ini sangatlah konvensional bahwa sesuatu bisa hilang karena pemiliknya lengah. Di balik peristiwa tersebut sangat bertentangan dengan sosok Mpu yang secara filosofis sebagai sosok yang sangat waspada. 

Peristiwa ketiga yang banyak mengundang perhatian para sejarawan ialah ketertarikan Ken Angrok pada Ken Dedes. Meskipun dalam kisah tersebut Ken Dedes dilukiskan sebagai wanita yang memiliki kecantikan paripurna, tetapi jatuh hatinya Ken Angrok pada ken Dedes bukan karena kecantikannya melainkan aura yang memancar dari betisnya.

Narasi ini telah menjadi keyakinan masyarakat Jawa pada umumnya tentang rahasia wanita Jawa. Hyang Lohgawe sebagai guru spiritual Ken Angrok memaknai aura yang memancar dari betis Ken Dedes sebagai sebagai sebuah penanda dari petanda bahwa setiap bayi yang lahir dari rahimnya akan menjadi raja di Tanah Jawa.

Sebenarnya pernyataan Lohgawe delapan ratus tahun yang lalu tersebut sebagai isyarat bahwa setiap wanita memiliki potensi untuk melahirkan bayi-bayi yang unggul yang siap menjadi pemimpin di masa depan. Siapakah perempuan tersebut. Perempuan itu ialah perempuan yang siap menjadi tumpuan hidup keluarga, penggerak sekaligus pendidik keluarga, dan soko guru bagi keluarga. Inilah tafsir modern dari ‘betis Ken Dedes’. 

Uraian di depan hanya sebagian kecil dari penggalan kisah Ken Dedes dalam Kitab Paraton. Pada akhirya kita harus mengakui bahwa setiap wanita memiliki potensi cinta dan kometmen untuk menjadikan diri dan keturunannya pemimpin di masa yang akan datang. Bangsa kita akan kuat bukan hanya karena laki-laki melainkan juga peran wanita. Rasulullah bersabda bahwa bahwa wanita adalah tiang Negara ‘armaratu ‘imaadul bilaad’. (*)

*) Penulis: Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unisma.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com