Mengembalikan Jati Diri Bahasa Indonesia Pada Millenial

Home / Kopi TIMES / Mengembalikan Jati Diri Bahasa Indonesia Pada Millenial
Mengembalikan Jati Diri Bahasa Indonesia Pada Millenial Muhammad Afnani Alifian, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Malang, anggota redaksi Lembaga Pers Mahasiswa Fenomena Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESSURABAYA, MALANGSEBELUM masuk pada pembahasan tentang bahasa Indonesia sebagai jati diri dan identitas bangsa, perlu kiranya untuk mengenal kaum milenialis. Kata kaum milenialis begitu identik dengan pemuda yang menutut segala sesuatu untuk serba cepat, serba instan, dan serba mudah.

Hal itu ditengarai karena hadirnya internet ditengah era milenial. Netizen (warganet) sering menyebutnya dengan kids jaman now. generasi millenial, generasi teknologi informasi, begitu berbeda dengan generasi sebelumnya, yaitu generasi x, baby boomers, hingga generasi tradisional.

Generasi ini hadir sebagai bentuk diferensiasi antara periode generasi zaman dulu yang eksis di tahun 90-an, dengan generasi yang sedang eksis zaman sekarang. Dari segi usia, bisa dikatakan generasi milenial adalah mereka yang dilahirkan antara 1999 sampai tahun 2000 an ke atas. 

Istilah milenial atau millennials mulai dicetuskan oleh William Strauss dan Neil Howe pada tahun 1987. Mereka menciptakan istilah ini pada saat anak-anak yang lahir di tahun 1982 masuk prasekolah, dan media pada saat itu mulai menyebutnya sebagai kelompok yang terhubung ke milenium baru di saat lulus SMA tahun 2000. Keduanya menulis tentang kelompok ini dalam buku Generations:The History of America's Future Generations dan Millennials Rising: The Next Great Generation.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com