Cerpen Perdana Hamid Nabhan Sang Badut dan Penyair Sarat Pesan Sosial 

Home / Gaya Hidup / Cerpen Perdana Hamid Nabhan Sang Badut dan Penyair Sarat Pesan Sosial 
Cerpen Perdana Hamid Nabhan Sang Badut dan Penyair Sarat Pesan Sosial  Hamid Nabhan bersama buku cerpen perdananya berjudul Sang Badut dan Penyair, Sabtu (8/8/2020). (FOTO: Dok. Pribadi Hamid Nabhan)

TIMESSURABAYA, SURABAYAHamid Nabhan terkenal sebagai seorang penyair dan pelukis. Namun kali ini ia menulis sebuah cerpen berjudul Sang Badut dan Penyair

Cepen ini mengisahkan dua tokoh sentral. Pulot, badut yang berjuang menjalani kehidupan di tengah kota besar. Ia kerap bertukar pikiran dengan penyair di sebuah taman. Keduanya menghabiskan waktu hanya untuk menunggu ketidakpastian hidup. 

Penyair hidup dengan puisi. Karena kata seperti angin. Tak akan mampu orang melenyapkan. Kata-kata bahkan bisa menjelma menjadi mahluk bernyawa. Demikian kisah penyair pada halaman 10 buku tersebut. 

Demikian juga kisah Pulot. Tiga hari ia ia hanya sekali mendapat undangan mengisi pesta ulang tahun. Pekerjaannya terasa semakin berat. Ia mengira mungkin anak-anak sudah tidak memerlukan pertunjukan semacam badut. Karena badut sudah banyak menjelma di wajah-wajah orang sekitar mereka. Hidup Pulot terasa semakin sulit. 

Hamid Nabhan menorehkan setiap kisah dengan apik dan menyentuh. Menyentil sekelumit problematika kota metropolitan di tengah gaduh kekuasaan. 

Cerpen perdana Hamid bisa jadi menguras air mata. Membuka kenyataan pahit bagi rakyat kecil bertahan hidup di tengah hantaman badai pandemi dan wacana kebijakan pemerintah yang terkadang membingungkan. 

Hamid Nabhan menyebut jika ini merupakan cerita fiksi perdananya. Mengambil tema sesuai dengan keadaan. Bahkan Prof Jakob Sumardjo sebagai pengantar mengatakan cerpen ini sangat kontekstual dan relevan dengan zamannya. 

"Idenya ya tiba-tiba dari suara hati atas keadaan sosial juga terhadap ketimpangan sosial saat ini," terang Hamid, Sabtu (8/8/2020). 

Tidak butuh waktu lama. Ide itu lantas ia tuangkan dalam semalam saja. Kendati baru pertama menulis cerpen, nyatanya Hamid mengaku tidak kesulitan menuangkan gagasan. Ia hanya perlu sedikit mengoreksi ulang keesokan harinya. 

"Waktu menulis itu dari jam 01.00 pagi sampai subuh sekitar jam 05.00 WIB," tambahnya. 

Terus produktif meskipun pandemi. Cerpen Sang Badut dan Penyair merupakan satu dari empat buku barunya saat ini. Buku puisi, kumpulan quotes dan buku tentang perjalanan berjudul Menelusuri Lorong Sejarah yang mengangkat perjalanannya pada September tahun lalu. Kini Hamid Nabhan juga tengah menyelesaikan dua buku baru tentang seni rupa dan buku sejarah. (*) 

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com