PMII Kota Malang Menakar Relevansi Gerakan Mahasiswa

Home / Berita / PMII Kota Malang Menakar Relevansi Gerakan Mahasiswa
PMII Kota Malang Menakar Relevansi Gerakan Mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

TIMESSURABAYA, MALANG – Soal gerakan mahasiswa kian gencar dibincangkan, apakah masih relevan atau tidak. PMII Kota Malang mengkaji soal itu, bersama lebih dari seratus kader di setiap rayon, komisariat maupun pengurus cabang.

Wakil Ketua Bidang Gerakan PC PMII Kota Malang, Dedy Setiawan Hariadi menjelaskan, acara ini menjadi acara rutin digelar setiap dua minggu sekali.

Forum yang dikemas Ngaji Gerakan ini bertujuan untuk saling tukar gagasan, perang ide serta pemahaman realita kekinian bagaimana kemudian mahasiswa, terutama PMII Kota Malang bergerak.

Yatimul Ainun, mantan aktivis yang juga senior PMII, hadir menjadi pemantik forum diskusi di aula BEM Unitri, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (16/10/2019) malam.

Ainun membeberkan persoalan gejolak gerakan mahasiswa yang akhir-akhir ini kerap muncul di permukaan.

Dalam suatu gerakan, kata dia, identitas itu penting. Sesuatu yang dibawa baik simbol, warna, atribut dan cara, merepresentasikan ideologi dan keberpihakan suatu kelompok.

"Gerakan aktivis harus matang lewat kajian-kajian mendalam yang berbasis data dan fakta," ujar Pemred TIMES Indonesia itu.

Ideologi media, sambungnya, juga harus dipahami. Gerakan digital tidak bisa dipungkiri perannya. "Ini marak digunakan karena dianggap efektif," singkatnya.

Pria berkacamata itu menerangkan, menjadi kader PMII harus punya komitmen pribadi dan organisasi yang utuh.

"Komitmennya adalah berikan sesuatu pada PMII, bukan mengharap sesuatu dari PMII. Berkontribusi dan berkarya," tegas Ainun.

Kontribusi itu diterapkan dan dikembangkan di dunia kampus. Sehingga terjalin proses pembelajaran tentang kemasyarakatan karena setiap gerakan idealnya adalah memberikan advikasi keberpihakan kepada masyarakat.

Soal sikap kritis mahasiswa, masih kata Ainun, kerapkali tumpul karena dua hal yaitu pragmatisme dan romantisme yang berlebihan.

"Saya analogikan seperti aktivis sandal jepit. Dibawa kemana-mana dan ditinggal di mana-mana. Kalau hilang bodo amat karena sandal jepit," ucapnya.

Dia menegaskan, untuk melakukan gerakan, ada tiga hal yang menjadi modal mendasar yaitu modal moral, modal sosial dan modal intelektual. Ketiga modal ini mutlak dibutuhkan sebagai acuan dalam melakukan gerakan.

Gerakan mahasiswa yang menjadi tema besar diskusi Ngaji Gerakan oleh PMII Kota Malang ini akan berlanjut dengan kajian-kajian lanjutan setiap dua minggu. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com