Ngopi Bareng Milenial Gresik, Wakil Rakyat Dicurhati Masalah Lapangan Kerja

Home / Berita / Ngopi Bareng Milenial Gresik, Wakil Rakyat Dicurhati Masalah Lapangan Kerja
Ngopi Bareng Milenial Gresik, Wakil Rakyat Dicurhati Masalah Lapangan Kerja Ketua DPRD Gresik Fandi Akhmad Yani saat memberikan materi saat acara ngobrol pintar di Kafe Joglo, Kecamatan Dukun. (FOTO: Akmal/TIMES Indonesia).

TIMESSURABAYA, GRESIK – Menggelar ngopi bareng milenial di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Rabu (15/1/2020) malam, Ketua DPRD Gresik Fandi Ahmad Yani dicurhati warganya masalah sulitnya mendapatkan pekerjaan. Wakil rakyat yang masih muda itu merespon permasalahan tersebut.

Menurut Gus Yani, panggilan akrabnya, meski Gresik bertabur industri, permasalahan penyerapan tenaga kerja belum maksimal. Bahkan, ia sering diwaduli oleh milenial soal sulitnya mencari kerja.

Gus Yani mengatakan, perda soal perlindungan tenaga kerja sebenarnya sudah ada, bahkan sudah digedok pada 2018 lalu. Payung hukum yang melindungi para pekerja lokal tersebut, ungkap dia belum bisa diberlakukan dengan baik oleh para pemangku kebijakan yang memiliki otoritas.

"Perda itu mandul, belum dilakukan. Sempat ditanyakan ke eksekutif, hingga saat ini belum ada perbup soal itu. Padahal, perda soal perlindungan tenaga kerja lokal sudah ada," kata dia.

Sebenarnya, keberadaan perda tersebut sengaja dibuat untuk membantu dan mengurangi jumlah pengangguran, adanya perda tersebut sebuah harapan bagi masyarakat khususnya yang belum mendapatkan pekerjaan. 

"Karena itu, keberadaan perda tersebut diharapkan bisa manjadi solusi mengurangi angka pengangguran tersebut. Namun faktanya belum dilakukan oleh pemangku kebijakan," tambahnya.

Dihadapan milenial yang hadir, Gus Yani juga mengajak agar pemuda bisa menjadi pioner dalam pembangunan masa depan. Sehingga dibutuhkan milenial yang visioner.

Adanya bonus demografi ini juga akan membawa dampak sosial-ekonomi dan kebutuhan industri. Kondisi ini tentu bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk memajukan kesejahteraan apabila masyarakat usia produktif memiliki kualitas sumber daya yang bagus.

"Contohnya dalam berbisnis kita dituntut untuk cepat dan bisa membaca peluang apa yang dibutuhkan saat ini. Kalau tidak begitu, kita akan kalah dalam persaingan," imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga prihatin dengan kasus yang terjadi di Jembatan Sembayat, Kecamatan Manyar, seorang pemuda asal Desa Abar-abir yang mengakhiri hidupnya dengan alasan susah mendapatkan pekerjaan.

"Tentu hal itu membuat prihatin. Ke depan, tingginya angka pengangguran harus jadi perhatian kami, problem yang paling krusial di Gresik saat ini adalah kemiskinan yang termasuk pengangguran itu dan juga penuntasan Kali Lamong," ungkapnya usai ngopi bareng milenial Gresik. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com