Indikator
  • Undercontruction

Menristekdikti Kuak Sejarah Awal Masuknya Paham Radikal ke Kampus

Home / Peristiwa - Daerah / Menristekdikti Kuak Sejarah Awal Masuknya Paham Radikal ke Kampus
Menristekdikti Kuak Sejarah Awal Masuknya Paham Radikal ke Kampus Menristekdikti Prof Mohamad Nasir, naik becak bersama Wakil Ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar, di depan Masjid Agung, Lamongan, Rabu, (13/6/2018). (FOTO: Ardiyanto/TIMES Indonesia)

TIMESSURABAYA, LAMONGAN – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi atau (Menristekdikti), Prof Mohammad Nasir, membeberkan awal mula masuknya paham radikalisme dan intoleransi di dunia kampus.

Nasir menyebut, awal mula paham radikal mulai masuk ke kampus adalah sejak diberlakukannya, Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) sejak 1983.

Mohamad-Nasir-2.jpg

“Sebenarnya kampus yang terpapar radikalisme itu kita lihat sejak kebijakan menteri dulu, tentang adanya NKK/BKK, tahun 1983,” kata Nasir, seusai mengikuti dialog Wakil Ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar, bersama Pengurus Ta'mir Masjid Agung dan Dewan Masjid Indonesia (DMI), di Masjid Agung, Lamongan, Rabu, (13/6/2018).

Menurutnya, dengan pemberlakukan NKK/BKK tersebut, dikatakannya, semua kegiatan mahasiswa yang masuk di dalam kampus tidak boleh. Yaitu organisasi mahasiswa yang terkait dalam kelompok Cipayung, tidak boleh masuk kampus.

“Akibatnya kampus kosong kegiatan. Dan sejak itulah mulai ada kegiatan yang secara fokus dilakukan terus-menerus bagi kelompok radikalisme masuk dalam kampus. Jadi sejak 1983,” ucapnya.

Nasir menilai, sejak pemberlakukan NKK/BKK itu, para lulusan perguruan tinggi sudah merambah kemana-mana sejak tahun 1990. “Ada yang jadi guru SD, SMP, SMA, dan bahkan Dosen. Dan ini bergerak terus sampai tahun 2000, 2012, dan sampai sekarang,”

Pernyataannya itu diperkuat dengan hasil pemetaan para peneliti pada 2011 dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) baru-baru ini. BNPT, mengeluarkan data 7 kampus yang terpapar paham radikalisme.

“Memang banyak yang terpapar, sampai dikatakan 39 persen, apa yang disampaikan BNPT,” kata Nasir.

Sebagai Menristekdikti, Mohammad Nasir juga tengah mempertimbangkan untuk memfasilitasi organisasi mahasiswa ekstra kampus untuk kembali ke kampus, atau kemungkinan menghapus NKK/BKK guna meminimalisir tumbuhnya paham radikal. “Bagaimana memfasilitasi organisasi mahasiswa ini berinteraksi dengan kampus, jangan sampai kembali ke masa lalu,” tuturnya. (*)

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com