Indikator
  • Undercontruction

Kemampuan Bahasa Inggris Lemah, Seskab: Pejabat Tak Perlu Minder

Home / Peristiwa - Nasional / Kemampuan Bahasa Inggris Lemah, Seskab: Pejabat Tak Perlu Minder
Kemampuan Bahasa Inggris Lemah, Seskab: Pejabat Tak Perlu Minder Seskab Pramono Anung didampingi Deputi DKK Yuli Harsono berfoto bersama para peserta yang akan mengikuti program pelantihan penerjemah di Monash University, di Ruang Rapat Lantai II Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Jumat (22/9) pagi. (Foto: Setkab)

TIMESSURABAYA, JAKARTA – Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengatakan pejabat tidak perlu minder lagi karena kemampuan berbahasa Inggris yang lemah.

Dalam 5, sampai 7 tahun terakhir, kata Pramono, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung naik secara stabil di angka 5% ke atas, Indonesia sudah mulai percaya diri dihadapan negara lain.

"Dibandingkan dengan negara-negara lain, kita ini sekarang ada confident, ada percaya diri," katanya saat melepas 12 pejabat fungsional penerjemah yang akan mengikuti pelatihan penerjemah di Monash University, Melbourne, Australia, di Ruang rapat Seskab Lantai II Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Jumat (22/9).

Beberapa tahun lalu, menurut penilainnya, dalam beberapa forum internasional masih ada hambatan psikologis beberapa pejabat yang tidak mampu berbahasa Inggris dengan baik ketika berbicara atau menyampaikan pendapat.

Sekarang negara sudah menyiapkan pejabat fungsional penerjemah yang nanti akan menjadi mediator. "Tidak perlu malu untuk katakanlah kalau pejabat tidak bisa berbahasa Inggris kemudian seakan-akan dunia mau kiamat kan nggak. Kita juga mesti membuka diri untuk itu,” tegasnya.

Fungsi pejabat fungsional penerjemah akan menjadi penting ke depan, karena Indonesia saat ini itu sudah menjadi salah satu 14-15 negara dengan kekuatan ekonomi dunia. Indonesia juga sudah menjadi anggota G20, dan menjadi kekuatan yang ekonominya stabil. Bahkan diprediksi oleh Wolrd Bank, oleh beberapa institusi internasional, tahun 2030, Indonesia bisa menjadi the Big Five.

"Kalau menjadi the Big Five, maka tidak bisa tidak bahwa peraturan kita, aturan main kita itu harus juga bisa dengan mudah untuk diketahui oleh orang asing. “Maka semua aturan kita itu, tidak bisa hanya dalam bahasa Indonesia. Tapi juga jarus dalam bahasa Inggris,” tuturnya.

Sebelumnya, Deputi Dukungan Kerja Kabinet (DKK) Sekretaris Kabinet, Yuli Harsono, dalam laporannya mengatakan, ke-12 pejabat fungsional penerjemah yang akan mengikuti pelatihan penerjemah di Monash University, Melbourne, Australia itu, berasal dari 8 instansi pemerintah pusat dan daerah, antara lain berasal dari Jakarta, Jambi, Palembang dan Manado. (*)

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com